Wakil Bupati Lombok Barat Hj Sumiatun ajak umat Hindu tetap menjaga persatuan di antara perbedaan.Hal itu disampaikannya saat membuka Pujawali di Pura Siwa Gangga Pancoran di Desa Giri Madia, Kecamatan Lingsar,Kabupaten Lombok Barat,Jum’at (12/08).

Dikatakan Hj.Sumiatun NTB umumnya, dan Lombok Barat khususnya bisa menjadi laboratorium toleransi antara Umat Hindu dan Islam.

“Kita memiliki Pura Lingsar sebagai tempat event Perang Topat setiap tahun yang diikuti oleh Umat Islam dan Hindu. Kita juga menyaksikan bagaimana teman-teman Pecalang di beberapa desa turut mengamankan jalannya pawai takbiran dan Shalat Hari Raya Idul Fitri,” ujar Hj. Sumiatun.

Selain itu,sambungnya,sudah lazim bahwa pemuda Sasak berteman bahkan bersahabat baik dengan Pemuda Hindu Bali Sasak.

“Persahabatan ini sering tersebutkan dalam istilah semeton jari di masyarakat pada umumnya, atau polong renten di masyarakat Lombok Utara, atau nyame braye dalam Bahasa Hindu yang dalam Bahasa Islam bisa disebut ukhuwah basyariah, persaudaraan sesama manusia,” jelas wabup.

Wabup menyebut,Mantan Ketua PHDI Lombok Utara I Komang Bratha pernah mengatakan orang Hindu di Bali tidak menyebut orang Hindu di Lombok sebagai Hindu Bali tapi lebih memilih menggunakan kata Nyame Sasak yang artinya saudara atau semeton Sasak karena sudah begitu menyatunya antara Umat Hindu dan Islam di Lombok dengan tetap memegang teguh keyakinan masing-masing.

Untuk itu Ketua DPD Golkar Lombok Barat itu mengajak semua umat Hindu untuk terus menjaga persatuan di antara perbedaan.

“Ikuti persembahyangan dan pujawali dengan sebaik-baiknya. Cintai sesama manusia dan jauhkan diri dari permusuhan dan benci. Karena kita adalah satu, makhluk Tuhan Yang Maha Esa,” ajaknya.

Sementara itu, I Ketut Wardana selaku Pengurus Pura menyampaikan terima kasih atas kehadiran Wakil Bupati Lombok Barat Hj. Sumiatun. Ia menyampaikan sejarah awal dibukanya Pura Siwa Gangga Pancoran.

BACA JUGA  Ketua DPW PSI : Banjirnya Mafia Tanah bukan hanya di Kawasan Pariwisata,Kawasan Hutan juga ada

“Pura ini dibuka pertama tahun 1977 waktu itu tempat ini masih pancor tempat pemandian dan warga umat Hindu masih 50 kk,” sebutnya.

Kemudian dilakukan renovasi tahun 1996 karena umat semakin banyak. Dengan semakin banyaknya warga Hindu baik di dalam maupun luar desa yang melakukan sembahyangan di Pura Siwa Gangga Pancoran.

Di tahun 2015 kembali dilakukan perbaikan dan renovasi atas kerjasama masyarakat secara swadaya.

“Dan tahun ini kembali akan dilakukan perluasan atau renovasi pure. Karena sudah tidak cukup melihat antusias masyarakat yang berdatangan untuk melakukan sembahyang terus semakin banyak,” ceritanya.

“Pura ini sekarang digunakan oleh 4 banjar dengan 280 kk,” kata Wardana.

Untuk itu pada kesempatan tersebut Wardana berharap agar dapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten Lombok Barat supaya tempat ibadah yang akan direnovasi semakin luas dan besar untuk dapat digunakan pada acara besar yang dilakukan setiap 5 tahun sekali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.