News86 – Tak ada yang menyukai hidup di dalam penjara. Terkekang 24 jam setiap hari di antara tembok besar dan jeruji. Namun,hal demikian ditemukan berbeda di Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Praya.

Salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan di bawah naungan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM NTB ini sukses menyulap penjara yang terkenal horror dan keras menjadi sebuah pondok pesantren yang bernuansa religius dan humanis.

Hal tersebut dapat terlihat dari ramainya warga binaan pemasyarakatan (WBP) yang memadati aula Bimker untuk pelaksanaan kegiatan pengajian rutin pagi ini, Jumat (06/08).

Pengajian rutin merupakan salah satu program pembinaan bagi warga binaan yang terdapat di Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Praya. Dengan berlangsungnya kegiatan tersebut diharapkan dapat membentuk karakter serta pribadi warga binaan menjadi lebih baik lagi.

Salah seorang WBP berinisial AR mengakui bahwa saat dirinya masih di luar dulu,tak sedikitpun dirinya pernah bisa membaca Al-Qur’an.Namun,ketika dirinya masuk ke dalam Rutan Praya, melalui program pembinaan keagamaan tersebut lambat laun dan sedikit demi sedikit dirinya pun mulai bisa membaca Al-Qur’an dan tidak jarang dirinya menjadi Imam dalam pelaksanaan sholat lima waktu di Rutan Praya.

Kepala Rutan Kelas IIB Praya, Jumasih menyampaikan bahwa pendirian Rutan berbasis pesantren di Rutan Praya merupakan upaya untuk memberikan pembinaan keagamaan.Dengan demikian, para warga binaan diharapkan mampu memberikan contoh yang baik saat kembali ke masyarakat.

“Nanti selepas keluar dari sini (Rutan) mereka bisa menjadi santri-santri dan bisa jadi ustaz yang hebat.Apalagi, mereka punya pengalaman yang pahit. Paling tidak bisa bina keluarganya,” tuturnya.(Humas Lapas Praya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.