News86 – Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak, Sekjen Komnas Anak dan Polres Loteng dan sejumlah komunitas peduli perempuan dan anak menggelar diskusi memutus mata rantai kejahatan terhadap anak dan pernikahan dini.

Bertempat di Aula Polres Loteng,Ketua Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak, Jeni Claudia Lumawa atau yang dikenal dengan nama Naomi optimis jika bermitra dengan TNI dan Polri bisa memutus rantai kejahatan terhadap perempuan dan anak.

Pihaknya mengaku tidak ada yang tidak bisa.Termasuk memutus rantai kekerasan terhadap perempuan dan anak.Inga tanpa dukungan pemerintah pun kami yakin bisa melakukannya,” Tim ini berdiri secara independen.Waktu mengungkap kasus Anjelin saya murni menggunakan uang pribadi,” Ucap Naomi.

Sementara itu,Sekjen Komnas Anak, Danang Sasongko mengaku jika pernikahan dini saat ini menjadi isu Nasional.Peran semua pihak sangat dibutuhkan untuk meredam semua itu,termasuk peran dari orang tua.

“Kita sangat berharap peran orang tua aktif memutus mata rantai kekerasan terhadap anak maupun mencegah terjadinya pernikahan dini,”Harapnya.

Sedangkan Wakapolres Loteng Kompol I Ketut Tamiana mengaku jika pernikahan dini menjadi tantang tersendiri,mengingat banyak faktor yang mengharuskan seorang anak menikah.

“Di Lombok,jika anak perempuan sudah dilarikan maka akan sulit dikembalikan lagi kerumahnya.Contohnya jika mereka telat pulang pada malam hari,biasanya di atas jam 10 maka mereka harus dinikahkan,” Ucap Waka

Dijelaskan Waka,ini yang menjadi pertimbangan APH,bahwa lernikahan dini tentu akan berdampak juga terhadap keberlangsungan sekolah anak itu sendiri.Paparnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.